Tampilkan postingan dengan label silat lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label silat lokal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

silat sebagai pelajaran tersirat

dalam pelajaran dalam pencak silat sering kali ada omongan atau pelajaran tentang kehidupan tetapi kita sering tidak menyadarinnya. salah satunya adalah pelajaran bagaimana bersabar dalam kehidupan dan rendah hati.  ini yang menjadikan silat adalah pelajaran tersirat bagaimana kita menjalani hidup dengan kaidah silat? 


Rabu, 12 Desember 2012

Pencak Silat Indonesia Ternyata Sudah Berkiprah 30 Tahun di Eropa


Suasana bahagia melingkupi para atlet, wasit dan manajer kontingen Pencak Silat dari sebelas negara saat upacara pembukaan Belgian Open Pencak Silat Championship ke 17.
Apalagi, ketika Ketua Federasi Pencak Silat Belgia “Harimau Bongkot” Ludo Pieters mendapat ucapan selamat dari istri dan ketiga anaknya, yang juga pesilat. Pasalnya, anak Pieters ini berhasil meneruskan Federasi Pencak Silat Belgia yang didirikan oleh ayahnya sejak 30 tahun lalu. Dan mengembangkan pencak silat Indonesia di Belgia serta Eropa.
Duta Besar RI Arif Havas Oegroseno yang membuka secara resmi kejuaraan Pencak Silat di Sport Centre Schoten, Belgia, menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada keluarga Pieters yang telah berhasil memperkenalkan dan mengembangkan pencak silat kepada masyarakat Belgia. Ludo Pieters telah sukses menyelenggarakan tiga kali European Pencak Silat Championship dan 17 kali Belgian Open Pencak Silat Championship.
Ditambahkan, bahwa mempelajari pencak silat tidak saja menjadikan pesilat sebagai ahli bela diri yang dapat dipertandingkan dan dapat dijadikan pertunjukan seni, tetapi juga dapat memahami budaya, filosofi dan tradisi yang sportif dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu pencak silat warisan budaya Indonesia dan dunia.
Duta Besar Oegroseno menyambut baik dan menyampaikan selamat atas bergabungnya untuk pertama kali para atlit dari Vietnam dan Jepang pada kompetisi tersebut. Disayangkan bahwa atlit pesilat Indonesia secara konsisten absen dalam kompetisi ini.
Pengembangan pencak silat di Belgia akan menjadi unsur yang menunjang keeratan hubungan antara masyarakat Indonesia dan Belgia, khususnya di bidang olah raga. @releace/Kedubes RI di Brussel

169 Aliran Silat Sumbar Terancam Punah.


BANGKINANG – Sebanyak 169 aliran pencak silat di wilayah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dikhawatirkan hilang. Karena itu, regenerasi sangat diperlukan sebab aliran silat tersebut selama ini hanya dikuasai para pesilat yang umurnya sudah tua.

Masalah banyaknya aliran silat itu merupakan aset berharga untuk pembinaan pesilat muda. Karena, ada sekitar 169 aliran di daerah ini,” kata Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Sumatera Barat, Fauzi Bahar, Rabu.
Ia mengatakan pesilat tua sebagai pewaris aliran tersebut belum menularkan keahliannya kepada pesilat muda. Sehingga, aset tersebut terancam hilang.
Masalah tersebut dinilai serius dan mengkhawatirkan. Karena jika pesilat tua itu meninggal, maka hilanglah aliran tersebut tanpa ada pewarisnya.
Oleh sebab itu, pihaknya tahun ini akan melakukan festival pencak silat se-Sumatera Barat. Mereka akan mengundang para pesilat tua yang memiliki aliran tersebut.

Sabtu, 10 November 2012

Kumpulan sebagian lambang silat indonesia





















SEJARAH PENCAK SILAT CIMANDE

Asal Usul Silat Cimande

Tak jauh di tepian sungai Mande sebuah keluarga pedagang bernama Khair hidup tinggal temtram dan damai. Di suatu hari istrinya pergi kesungai untuk melakukan kegiatan sehari-hari mencuci pakaian, makanan dan membuang hajat. Di saat istrinya mencuci pakaian di seberang tampak segerombolan monyet memungut buah kupak di tepian sungai, selang waktu kemudian datang seekor macan (maung) di tempat yang sama.
Monyet-monyet itu merasa terusik kenyamanannya dengan kedatangan macan, monyet-monyet itu menjerit jerit mengeluarkan suara sekeras-kerasnya. Suasana itu mengejutkan istri Kahir untuk memperhatikan keadaan , kemungkinan apa yang terjadi.
Macan itu marah mengaung dan menyerang ke arah monyet dengan tangannya yang kekar tetapi monyet yang bertubuh kecil itu, merasa tidak takut, meloncat dengan berkelid kembali menyerang dengan mengigit di bagian perut macan. Macan menggeliat kembali melakukan serangan- serangan namun tidak menyentuh tubuh monyet. Sebaliknya monyet yang lain dengan meggunakan tangkai kayu, mencoba mengganggu macan agar supaya marah dan menyerangnya kembali. Pada saat yang sama monyet kembali berkelit dan mengigitnya.
Kejadian ini detik demi detik diperhatikan dan diamati oleh Ibu Khair direnungkan kembali teknik perkelaian itu. Sebagai akibatnya pekerjaannya tertinggal tidak terselesaikan tepat waktu, sehingga Ibu Khair kembali ke rumah terlambat dan belum memasak makanan siang. Keterlambatan memasak ini membuat Pak Khair marah terhadap istrinya tak mau mengerti . Istrinya mencoba menjelaskan tetapi suaminya marah dengan menempeleng istrinya, dengan gerakan cepat berkelid , serangan itu dapat dihindari.Kemarahan yang tidak terkontrol itu meluap-luap dilakukan dengan pukulan demi pukulan namun tak berhasil menyentuh istrinya, cukup diatasi dengan gerakan kelid.
Pak Kaher nafasnya terengah-engah, bertanya kepada istrinya: “Di mana kamu belajar maen poho?” (artinya “menipu gerakan” dipersingkat menjadi “maempo”). Istrinya menjelaskan kepada suaminya , dia terlambat kembali dari sungai disebabkan lama sedang asik menikmati perkelaian (maung) macan dan monyet. Sejak itu Khair bertanya-tanya bagaimana gerakan tadi, istrinya dengan rajin memberikan contoh gerakan kelid.
Khair dengan cermat memulai memikirkan menjadi gerakan perkelaian yang kini dikenal dengan nama “jurus kelid pamonyet”, monyet menyerang dengan tangkai kayu menjadi “jurus pepedangan” dan serangan tangan yang kokoh dikenal”jurus pamacan”.
Karena posisi macan sewaktu menyerang monyet kedua kakinya sedang berada di posisi duduk dan monyet menggunakan posisi kuda-kuda rendah, maka latihan dasar Cimande pertama-tama jurus kelid dimulai dari posisi macan yaitu duduk dan tingkat berikutnya mulai latihan dari posisi berdiri dengan kuda-kuda pamonyet(rendah). Berikutnya teknik mempo’ ini terus dikembangkan oleh Khair dan masyarakat setempat memberikan nama maenpo’ Cimande.

SUMBER:
http://nasikhulamin.wordpress.com/2011/10/21/sejarah-pencak-silat-cimande/ 

PAMUR

Dengan bermodal restu dari ayah dan Wedana Galis berangkatlah Raden Hasan Habuddin Sastrosubroto menuju ke sebelah timur, yaitu Kalianget. Dari Kalianget menyeberangi laut menuju pulau kecil, yakni Talangoh. Alat transportasi yang dapat digunakan menyeberang waktu itu hanyalah perahu-perahu kecil dengan mengandalkan layar dan tenaga manusia. Setibanya di Talangoh, Hasan belajar bela diri. Permainan bela diri di Talangoh ini melengkapi keahlian bela diri yang sudah dimilikinya sejak berada di Pemekasan, yaitu bela diri Bang Simin, dan Cik Agil. Kedua keahlian bela diri itu bukan termasuk keahlian okol dan ojung yang digemarinya. Menurut Raden Hasan Habudin Sastro Subroto keduanya (okol dan ojung) tidak termasuk bela diri, tetapi suatu permainan yang digemari masyarakat yang ada kaitannya dengan aktivitas raga manusia. Sekalipun okol dan ojung itu saat ini menjadi sejenis pertandingan olah raga, pada keduanya belum memiliki system, metode, dan kurikulum seperti pencak silat atau seni bela diri lainnya. Pemerintah penjajah Jepang mengadakan pengejaran terhadap Hasan sehinga Hasan merasa tidak tenang di Talangoh. Kemudian, upaya penyelamatan diri tetap dilakukan. Pengembaraan dilanjutkan ke sebelah timur, yaitu ke Pulau Sapudi dengan memilih Pelabuhan Gayam yang terletak dibagian selatan pulau tersebut. Di pulau Sapudi ini Raden Hasan Habuddin Sastro Subroto tidak langsung mengadakan aktivitas di bidang belajar mengajar bela diri, tetapi lebih condong untuk memperkuat kerohanian.
Pulau Sapudi merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di sebelah timur Pulau Madura. Pulau Sapudi seluas satu kecamatan, di pulau ini ia berlabuh pertama kali di Pelabuhan Gayam yang berada di bagian selatan pulau. Di pulau ini pula terdapat Pegunungan Adi Podai yang menjadi leluhur Raja Madura, yaitu Jokotole. Di Pulau Sapudi, Raden Hasan Habudin Sastro Subroto menuju pegunungan untuk bertapa. Pegunungan tersebut dikenal dengan nama Pegunungan Adi Podai sebab di tempat ini tersebar legenda di tengah-tengah masyarakat Madura sebagai tempat yang dipilih oleh Pangeran Adi Podai utnuk bertapa. Masyarakat Madura mengenal Pangeran Adi Podai sebagai salah seorang tokoh penting dalam upaya penegakan harkat dan martabat kerajaan-kerajaan di Pulau Madura. Di samping itu, menurut Babad Madura, dari Pangeran Adi Podai ini lahir seorang Raja Madura yang cukup terkenal, yaitu Jokotole. Jokotole pernah menjadi raja yang berkedudukan di Sumenep. Selama di Pulau Sapudi, Hasan memilih Pegunungan Podai yang terletak di tengah-tengah Pulau Sapudi. Belum berapa lama ia tinggal di pegunungan tersebut, timbul firasat yang kurang enak, seolah-olah ia merasa ada isyarat tentang penangkapan atas dirinya oleh pemerintah penjajahan Jepan akan segera terjadi. Akhirnya diputuskan untuk meninggalkan Pegunungan Podai dan melanjutkan pengembaraan menuju ke sebelah barat, yaitu ke desa Padamaran yang berada di Pulau Sapudi juga.
Aktivitas belajar pencak kembali dilakukan di desa Padamaran, tetapi hanya berlangsung selama kurang lebih satu minggu sebab ilmu pencak yang dimiliki oleh pendekar di desa Padamaran jauh lebih rendah dari ilmu pencak yang dimilki Hasan. Pendekar di desa Padamaran ini memimpin satu padepokan tetapi nama dan jenisnya masih sulit untuk diidentifikasi. Nama pendekarnya sudah sulit diingat, disamping proses terlalu singkat, kurun waktu saat belajar hingga sekarang juga cukup lama. Didesa Padamaran ada mercusuar. Pengembaraan Raden Hasan Habuddin Sastro Subroto ke desa Padamaran, disamping untuk menyelamatkan diri dari pengejaran, juga untuk belajar. Sistem belajar yang digunakan adalah sistem bodoh, maksudnya adalah bahwa sekalipun beliau sudah banyak memiliki ilmu, di bidang bela diri, pada saat belajar di salah satu padepokan, ia tetap mulai dari awal, tetapi secara teliti, hari-hati, dan cermat. Tetap diselidiki apakah ilmu bela diri yang sedang dipelajari itu lebih baik dan lebih sempurna dari pada ilmu bela diri yang telah dimiliki, atau justru sebaliknya.
Dengan sikap seperti itu Hasan berulang-ulang berganti guru dan padepokan pencak. Belajar pencak silat dapat berlangsung lama atau ada pula yang berlangsung hanya sekejap. Ada yang mencapai enam bulan, bahkan ada yang berlangsung tiga hari. Keadaan ini bergantung kepada tingkat keahlian guru sebagi pendekar. Oleh sebab itu semakin banyak padepokan yang didatangi untuk belajar pencak, bertambah banyak dan bervariasi pula ilmu pencak yang dipelajari dan yang diselidiki olehnya. Dalam mempelajari pencak pada beberapa padepokan tersebut Hasan bersikap eklektis in corporatif. Maksudnya di dalam mempelajari beberapa jenis pencak, diseleksi dulu segi-segi tertentu dengan dasar pertimbangan bahwa pencak yang dipelajari itu pantas dimiliki dan dikembangkan olehnya atau tidak. Jika menurut pertimbangan pantas dimiliki dan dikembangkan pencak yang dipelajari tersebut ditekuni dan apabila tidak sesuai, itu segera ditinggalkan. Raden Hasan Habuddin Sastro Subroto melanjutkan pengembaraannya menuju ke arah utara dari desa Padamaran. Pengembaraan saat ini menyusuri perbukitan di Pulau Sapudi, dan di daerah ini tidak ada pendekar. Oleh sebab itu, di daerah ini tidak terlalu lama bermukim. Pengembaraannya di Pulau Sapudi segera diakhiri dan melanjutkan ke pulau-pulau lain yang berdekatan dengan Pulau Sapudi.
Di sebelah Timur Pulau Sapudi ada pulau yang lebih kecil lagi, yaitu Pulau Raas. Di pulau ini Hasan melanjutkan pengembaraannya, setelah mengembara beberapa saat di Pulau Sapudi. Pengembaraannya ke Pulau Raas di awali dengan pendaratan di pelabuhan Katopak, yaitu tempat yang paling lazim digunakan para tamu untuk memasuki Pulau Raas. Di wilayah pesisir pulau ini tidak ada pendekar, kemudian pengembaraan dilanjutkan ke wilayah tengah pulau. Ternyata di tengah-tengah pualu ini ada padepokan. Pulau Raas terletak di sebelah timur Pulau Sapudi. Di Pulau ini Raden Hasan Habuddin Sastro Subroto berlabuh di Pelabuhan Katopak. Di tenga-tengah pulau ini ternyata terdapat desa Kropok yang sekaligus menjadi nama padepokan pencak silat.
Padepokan di tengah-tengah Pulau Raas dipimpin oleh seorang kepala desa, yaitu kepala desa Kropok. Di padepokan ini seorang pendekar merangkap menjadi kepala desa, Hasan yakin bahwa hingga saat ini nama desa tersebut tetap tidak berubah. Di desa ini beliau menjadi murid di padepokan. Nama padepokan dan jenis pencak tidak menjadi pertimbangan utama, tetapi yang utama adalah belajar pencak dan memahami isinya serta sambil menyelamatkan diri dari pengejaran pemerintah penjajahan Jepang. Pengembaraan tersebut diatas merupakan proses untuk mendapatkan ilmu dan kemahiran pencak. Raden Hasan Habuddin Sastro Subroto di dalam menciptakan pencak berkomposisi 30% ilmu murni, 30% praktik, dan 40% ilham. Dalam menciptakan pencak unsur ilham lebih dominan. Oleh sebab itu, ada beberapa gerakan yang sulit dicarikan rasionalnya, tetapi didalam praktik dan penggunaannya sesuai dengan kenyataannya.
Sebagaimana halnya dalam pengembaraan-pengembaraan sebelumnya, di Pulau Raas, terutama di desa Kropok, Hasan mengalami kesulitan dan cukup sengsara. Kehidupan di desa Kropok lebih sulit sehingga terpaksa Hasan sering tidur dibawah pohon bakau untuk mencari nafkah. Di samping itu di desa Kropok suasananya kurang menguntungkan karena dekat dengan kantor polisi Raas. Keadaan ini mendorong Hasan untuk mengungsi tempat tidur sebab khawatir pengejaran tetap dilakukan. Selama mengembara di Pulau Raas, Hasan berkehendak untuk bertapa di tempat pertapaan Adi Rasa (Adi Raas). Menurut legenda masyarakat Madura, Adi Rasa telah berhasil mengantarkan Jokotole ke mana-mana, dan berhasil mengantarkan Jokotole menjadi salah seorang Raja Madura yang cukup disegani.
Didalam bahasa Madura istilah raas adalah berpadanan dengan kata rasa. Istilah raas juga memiliki pada kata lain yaitu galagas. Galagas adalah sejenis rumput raksasa yang biasanya tumbuh di pinggiran air payau atau dipinggir sungai. Batang galagas dapat mencapai tinggi hampir dua meter, bahkan lebih dan apabila sudah tua biasanya berbunga putih dan berbuah. Buah galagas berbulu tebal dan mudah terbang karena dihembus angin kemarau. Sejalan dengan itu, Adi Rasa adalah Adi Raas, maksudnya adalah seorang sakti mandraguna yang menjadi penguasa utama di pulau tersebut. Pemberian nama Pulau Raas adalah identik dengan penguasa dipulau tersebut. Menurut legenda masyarakat Madura, orang sakti mandraguna tersebut bertapa diatas rumput galagas. Oleh sebab itu kehendak Hasan untuk bertapa ditempat pertapaan Adi Rasa tidak berhasil sebab, Hasan tidak dapat menemukan tempatnya.
Setelah satu bulan di desa Kropok, Hasan melanjutkan pengembaraannya ke arah timur, yaitu di desa Barakas. Di desa ini ia bertahan agak lama karena ingin mengadakan penelitian, sebab di desa Barakas ini terdapat barang-barang peninggalan milik Van der Plast. Pengembaraan Hasan di desa Barakas agak berbeda dengan pengembaraan di tempat-tempat sebelumnya. Di desa ini Hasan mulai mengajar pencak. Di samping itu ia juga belajar. Tujuan mengajar pencak  di tempat ini adalah untuk mendapatkan pemasukan. Di desa Barakas Hasan mengumpulkan orang-orang kaya untuk diajar pencak dan dari mereka Hasan menerima uang lelah ala kadarnya. Setelah terkumpul uang tersebut oleh Hasan digunakan untuk belajar pencak kepada pendekar yang dianggap lebih mahir. Pada masa silam, yaitu masa Hasan mengembara, belajar pencak silat memerlukan biaya cukup mahal. Satu gerak tangkapan memakan biaya satu ringgit. Nilai satu ringgit dapat dikurs dengan dua setengah gram emas. Jika dibandingkan dengan proses tranformasi ilmu pencak silat sekarang ini. Didalam Pencak Silat Angkatan Muda Rasio terdapat puluhan, bahkan ratusan gerak tangkapan.
Pengembaraan dari pulau ke pulau lainnya disebelah timur Pulau Madura belum selesai. Setelah beberapa waktu di desa Barakas, pengembaraan dilanjutkan ke Pulau Tonduk. Perjalanan dari Barakas, ke Pulau Tonduk harus menyeberangi selat. Di pulau ini Hasan berjumpa dengan kepala Desa Tonduk yang bernama Haji Bakri. Raden Hasan Habuddin Sastor Subroto berguru silat kepadanya. Walaupun kakinya pincang Hasan tetap berguru. Di pulau Tonduk, Hasan tidak sekedar belajar silat, tetapi juga menyepi. Menurut pengamatan Hasan, Haji Bakri memiliki ilmu yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan dirinya. Belum cukup enam bulan tinggal di Pulau Tonduk, Hasan menemui kesulitan. Di tempat ini Hasan akan diambil menantu oleh seseorang. Akan tetapi Hasan belum siap untuk menikah. Kebelumsiapan itu dikarenakan Hasan teringat pesan ayahnya. Ayahnya berpesan agar Hasan berhati-hati dengan wanita. Walaupun Hasan berguru kepada Haji Bakri belum purna, ia sudah meninggalkan Pulau Tonduk  menuju sebelah timur, yaitu Pulau Gua-Gua. Dari pulau Gua-Gua, Hasan melanjutkan pengembaraan ke wilayah utara. Di sebelah utara pulau Gua-Gua terdapat tiga pulau berjejer, yaitu Talangoh Barat, Tengah dan Talangoh Air.
Pengembaraan berakhir di Pantai Baranta
Berita kekalahan Jepang terhadap sekutu disambut gembira oleh Hasan. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi hasan segera bergegas menuju Pulau Madura. Perjalanan melalui laut dari Buleleng ke Pulau Madura memerlukan waktu beberapa hari. Pada minggu terakhir bulan Agustus 1945, Hasan kembali ke Pulau Madura dengan memilih Pelabuhan Baranta untuk berlabuh. Setelah sampai di Pulau Baranta Hasan dan kawan-kawannya menghancurkan perahu yang sudah beberapa lama digunakan. Keadaan ini terpaksa dilakukan karena Hasan telah haul “bahwa perahu ini akan dihancurkan setelah Hasan tiba kembali di Pulau Madura.
Setibanya di rumah, Hasan disambut oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi, ia kehilangan kakak kandunya yang bernama R. Abdullah. Abdullah dikabarkan diculik oleh pemerintah penjajahan Jepang, tetapi tidak jelas tindakan apa yang dilakukan Jepang kepadanya. Adik kandung R. Muhammad Saleh masih hidup ia menjabat sebagai guru di Blega. Menurut Maimuna (ibu), penangkapan Abdullah terjadi pada tahun 1942. Sejak penangkapan tersebut belum ada berita mengenai Abdullah. Sebagian anggota masyarakat memberitahukan bahwa Abdullah di bawa ke Makassar oleh Jepang. Setelah kembali berkumpul dengan kedua orangtuanya di Pamekasan, itu berarti pengembaraan telah berakhir. Selama pengembaraan Hasan telah belajar silat lebih kurang 32 padepokan. Padepokan tersebut dapat digolongkan kepada antara tujuh sampai sembilan aliran. Padepokan pencak silat tidak identik dengan aliran, tetapi dapat pula terjadi nama padepokan sekaligus mencerminkan aliran. Ke-32 padepokan dan ketujuh aliran pencak silat yang berhasil dipelajari, dipahami dan diamalkan oleh Hasan merupakan cikal bakal jurus-jurus dalam Pencak Silat Angkatan Muda Rasio (PAMUR).
Menurut Hasan, setiap pesilat atau pendekar Pencak Silat Ankatan Muda Rasio tidak boleh menonjolkan diri, angkuh dan sombong. Demikian pula, Raden Hasan Habuddin Sasto Subroto sangat sederhana dan tidak menonjolkan diri. Hal itu dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari beliau. Suatu ketika, Di pendopo Kabupaten Pamekasan, saat mengadakan demonstrasi, Bupati Pamekasan dan para undangan merasa terkejut dan tertegun melihat murid Hasan berkebangsaan Belgia yang menghadiri demonstrasi tersebut begitu hormat dan patuh pada Hasan. Biasanya orang-orang Eropa merasa enggan memberi hormat kepada orang lain. Tapi hal tersebut tidak terjadi di Pendopo Kabupaten Pamekasan. Akan tetapi, Hasan tidak merasa bangga dengan penghormatan dari muridnya tersebut.
Para pendekar Pamur tidak boleh sombong dan takabur, sebab sombong dan takabur dimurkai Tuhan dan mereka akan binasa. Pada suatu ketika, Hasan melarang pendekar Pamur mendemonstrasikan kemampuan membakar diri di tengah khalayak ramai, tetapi larangan tersebut dilanggar. Akhirnya dalam acara demontrasi tersebut terjadi peristiwa yang menyedihkan, yaitu pendekar tersebut benar-benar terbakar dan meninggal dunia. Di dalam Pamur dilarang pamer kekebalan tubuh, akan tetapi tidak melarang para pendekar melatih kekebalan badan dan melatih kekuatan agar tangkas dalam membela diri. Larangan tersebut hanya berlaku jika untuk menyombongkan diri dan ria. Demikian pula para pendekar Pamur boleh mempelajari ilmu tersebut dengan dasar pemikiran untuk penyempurnaan pembelaan diri.
Pamur adalah pencak silat tangan kosong, tetapi tetap diajarkan delapan unsur senjata. Hal ini bukan berarti telah meninggalkan prinsip sebagai pencak silat tangan kosong, melainkan untuk membela diri dari senjata tajam. Apabila ada serangan bersenjata, para pendekar Pamur akan mampu menyelamatkan diri dan terhindar dari serangan tersebut. Ciri khas Pamur adalah permainan menengah, berbeda dengan ciri yang ada pada beberapa pencak silat seperti Minangkabau, Melayu, Fort De Cock, Cimande, Tanah Merah, Mandar, Bang Simin dan Cik Agil. Beberapa pencak silat tersebut telah dipelajari oleh Hasan selama kurang lebih empat tahun kecuali Bang Simin dan Cik Agil yang telah dipelajarinya di Pamekasan sebelum mengembara.
Menurut Hasan, sebagai pendiri dan pencipta silat Pamur. Pencak silat di Indonesia terdiri dari tiga mazhab, yaitu mazhab konservatif, progresif dan liberal. Atau mazhab kuno, maju dan campuran. Menurut Hasan, Pamur termasuk mazhab liberal dan mazhab campuran, lebih tepatnya mazhab liberal nasional. Contoh yang paling jelas dalam Pamur adalah jurus tongkat yang diadopsi dari tongkat Minangkabau atau Mandar. Ukuran tongkat dalam pamur setinggi bahu ditambah satu genggam pesilat yang memainkan. Adapun asal mula didirikannya pamur oleh Hasan yaitu pertama, pada suatu ketika hasan menjuarai kejuaraan pencak silat se Jawa Timur di Kediri. Penonton tahu bahwa Hasan berasal dari Pemekasan, Madura. Salah seorang penonton memuji keberhasilan Hasan, namun lainnya mencemoohkannya karena menyayangkan Hasan sebagai orang Madura belum memiliki pencak silat khas Masura. Padahal wilayah lain yang lebih kecil dari Pulau Madura telah memiliki pencak silat khas daerah tersebut.
Kedua, terdorong oleh pesan lisan Mr. Wongsonegoro (Menteri Pendidikan RI) yang pada prinsipnya minta bantuan generasi muda agar pencak silat peninggalan nenek moyang dilestarikan, beliau juga berpesan agar pencak silat itu tidak diubah-ubah sehingga kehilangan keasliannya. Mr. Wongsonegoro juga mengharapkan pencak silat tidak kalah dengan bela diri luar negeri yang pada saat itu tidak terlalu lama akan menjadi kegemaran masyarakat. Beliau juga mengharapkan agar pencak silat menjadi milik nasional dan internasional. Sebenarnya banyak yang mendorong Hasan menciptakan pencak silat sendiri. Keinginan tersebut sudah terbayang saat ia masih remaja, namun baru dapat terwujud saat setelah ia dewasa. Motivasi untuk mendirikan dan menciptakan pencak silat yang memiliki ciri khas tertentu makin terasa setelah Hasan menikah. Hasan melangsungkan pernikahan pada bulan Oktober 1945 dengan Gadis bernama Kiptiyah yang lahir pada tanggal 10 Agustus 1931.
Dari pernikahannya tersebut lahir putera-puteri sebagai berikut :
  1. R. Sudjono Arief
  2. RR. Siti Kartini BA
  3. RR. Murdiati
  4. R. Hidayat Arief
  5. RR. Siti Warninda
  6. RR. Sri Murdaningsih
  7. R. Bambang Irawan
  8. R. Hermano Adi, S.Pd.
  9. R. Syamsul Hasan A. S.Sos.
  10. RR. Elly Yawati
  11. RR. Sri Lindiana
  12. RR. Jumaati

    sumber:

Kamis, 23 Agustus 2012

SEJARAH

Silat atau pencak silat adalah kata yang popular saat ini, yang merujuk pada aktivitas gerak dalam perkelahian, entah itu pembelaan diri, pertandingan, atau semata gerak badan untuk olah raga.
Frasa PENCAK SILAT adalah istilah baku yang digunakan untuk menyebut sebuah seni bela diri khas Indonesia. Seni bela diri sendiri mengandung dua makna : seni dan pembelaan diri. Seni merujuk pada keindahan tata gerak, pola langkah, serang-bela, bahkan seni lebih khusus diartikan sebagai seni pertunjukan ibing pencak silat dimana keindahan gerak dan langkah dipadu dengan iringan musik gendang pencak. Seni bisa  juga diartikan sebagai teknik; teknik menyerang, teknik menghindar, menangkis, memukul, dan sebagainya. Di sinilah letak perbedaan seorang ahli pencak silat dengan orang awang pada saat berkelahi.
Sedangkan bela diri adalah unsur utama dalam silat, intisari dari keahlian seseorang dalam bersilat adalah dalam pembelaan diri ini. Membela diri dalam silat tentu saja menggunakan teknik-teknik, kaidah dan filososfi dalam silat yang dimiliki seseorang
Sejak kapan silat ada di Indonesia? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini, belum ada orang yang bisa menjawab dengan pasti. Sebagai sebuah aktivitas pembelaan diri, cikal bakal pencak silat dapat dikatakan  setua umur manusia. Bukan kan para manusia purba telah terbiasa melawan keras nya alam, binatang buas dan kelompok manusia lainya dalam mempertahankan kelangsungan hidup nya. Apa pun nama nya setiap bentuk gerakan tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya, dalam bentuk seprimitif apa pun adalah suatu seni bela diri (walau pun untuk menyerang terlebih dahulu).

Merujuk pada hipotesa di atas, adalah logis kalau dikatakan silat/pencak silat (penamaan sekarang) sudah berumur sangat tua dan lahir bersamaan dengan terbentuk nya susunan masyarakat tertua di Indonesia (merujuk pada suku-suku yang tinggal di seluruh kepulauan Nusantara)
Silat atau pencak silat adalah kata yang popular saat ini, yang merujuk pada aktivitas gerak dalam perkelahian, entah itu pembelaan diri, pertandingan, atau semata gerak badan untuk olah raga.
Frasa PENCAK SILAT adalah istilah baku yang digunakan untuk menyebut sebuah seni bela diri khas Indonesia. Seni bela diri sendiri mengandung dua makna : seni dan pembelaan diri. Seni merujuk pada keindahan tata gerak, pola langkah, serang-bela, bahkan seni lebih khusus diartikan sebagai seni pertunjukan ibing pencak silat dimana keindahan gerak dan langkah dipadu dengan iringan musik gendang pencak. Seni bisa  juga diartikan sebagai teknik; teknik menyerang, teknik menghindar, menangkis, memukul, dan sebagainya. Di sinilah letak perbedaan seorang ahli pencak silat dengan orang awang pada saat berkelahi.
Sedangkan bela diri adalah unsur utama dalam silat, intisari dari keahlian seseorang dalam bersilat adalah dalam pembelaan diri ini. Membela diri dalam silat tentu saja menggunakan teknik-teknik, kaidah dan filososfi dalam silat yang dimiliki seseorang
Sejak kapan silat ada di Indonesia? Sangat sulit menjawab pertanyaan ini, belum ada orang yang bisa menjawab dengan pasti. Sebagai sebuah aktivitas pembelaan diri, cikal bakal pencak silat dapat dikatakan  setua umur manusia. Bukan kan para manusia purba telah terbiasa melawan keras nya alam, binatang buas dan kelompok manusia lainya dalam mempertahankan kelangsungan hidup nya. Apa pun nama nya setiap bentuk gerakan tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya, dalam bentuk seprimitif apa pun adalah suatu seni bela diri (walau pun untuk menyerang terlebih dahulu).
Merujuk pada hipotesa di atas, adalah logis kalau dikatakan silat/pencak silat (penamaan sekarang) sudah berumur sangat tua dan lahir bersamaan dengan terbentuk nya susunan masyarakat tertua di Indonesia (merujuk pada suku-suku yang tinggal di seluruh kepulauan Nusantara)
Pada perkembangan selanjut nya seiring dengan kemajuan peradaban bangsa-bangsa yang hidup di bumi Nusantara, seni bela diri ini pun mengalami kemajuan pesat, apa lagi setelah berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa China dan India dan terjadi akulturasi budaya termasuk seni bela diri. Diperkirakan semenjak abad ketujuh silat telah menyebar di kepulauan Nusantara, dengan penyebaran melalui tradisi lisan dari mulut ke mulut, dari guru ke murid.
Pengertian
Pencak Silat, ada pendapat yang menafsirkan dengan memisahkan arti dari kedua kata namun ada pula yang menganggap kedua kata tersebut sebagai bentuk dari penyatuan kata. Pendapat pertama yang memisahkan artian kata berpendapat bahwa Pencak adalah bentuk permainan (keahlian) untuk mempertahankan diri dengan menangkis, mengelak dan sebagainya. Sementara silat adalah kepandaian berkelahi, seni bela diri yang berasal dari Indonesia dengan ketangkasan membela diri dan menyerang untuk pertandingan atau perkelahian (KBBI, Pusat Bahasa 2008) Namun kesemuanya itu memiliki kesamaan subtansi di dalam hal pengertian. Tokoh-tokoh pendiri IPSI menyepakati pengertian pencak silat dengan tidak lagi membedakan pengertian antara pencak dan silat karena memiliki pengertian yang sama. Kata pencak silat adalah istilah resmi yang digunakan Indonesia untuk bela diri rumpun Melayu ini, sementara negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam lebih memilih kata silat.
Unsur-unsur dalam Pencak Silat
  1. Unsur fisik yang terdiri dari gerak berupa pola langkah, sikap badan, pola langkah, jurus, dan teknik aplikasi nya;
  2. Unsur batin yang merupakan filosofi, perilaku, sikap, kaedah, dan spiritual
Salah satu ciri khas  pencak silat  adalah hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara unsur lahir dan batin. Di mana pencak silat tidak semata-mata alat untuk membela diri dalam arti fisik, tetapi ada unsur “kebatinan” di dalam nya. Kebatinan bukan dalam pengertian mistik, tetapi bagaimana seorang pesilat bisa menyelaraskan antara keahlian bersilat nya dengan kemampuan menjaga tata perilaku dalam hubungan social dan hubungan dengan Tuhannya. Sebagaimana ujar-ujar yang sangat terkenal “lahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan” dan Silat untuk Silaturahim
Satu hal yang sering terlupa dari perhatian kita, masyarakat umum dan pemerintah, bahwa pencak silat adalah merupakan salah satu karya budaya bangsa, dimana dalam pencak silat dapat ditemukan unsur-unsur yang membentuk suatu kebudayaan, yaitu hasil dari olah cipta, rasa dan karsa. Pencak silat adalah juga bagian dari kebudayan kita sebagaimana hal nya dengan seni tari, seni pahat, ukir, lukisan, keris, batik dan lain-lain nya. Sebagai suatu hasil budaya bangsa maka sudah sepantas nya lah pencak silat mendapatkan tempat kedudukan yang sejajar dengan hasil budaya lainnya tersebut. Pemerintah tentu nya diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap hal ini.
Aliran dan Perguruan
Aliran silat merujuk pada pengertian dari mana sumber pencak silat tersebut berasal. Aliran silat bersifat original, klasik, dan merupakan sumber yang mempengaruhi. Aliran silat bisa dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Aliran silat primer adalah sumber pertama yang mempengaruhi aliran silat lain. Sebagai contoh aliran silat cikalong (maenpo cikalong) banyak mempengaruhi beberapa aliran silat di Jawa Barat. Begitu juga dengan Cimande yang sangat banyak mempengaruhi aliran silat lainnya. Aliran silat sekunder adalah aliran silat yang terbentuk sebagai hasil dari perpaduan satu atau lebih aliran silat primer, yang kemudian menjelma menjadi satu bentuk aliran silat baru.
Aliran silat juga bisa dibagi menjadi dua :
  1. Merujuk kepada daerah asal : seperti aliran silat Jawa Barat, Betawi, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, dan sebagai nya
  2. Merujuk ke jenis pencak silat sendiri, seperti aliran Cimande, Cikalong, Silek Tuo, Kumango, Harimau, Seliwa, Cingkrig, Beksi, Sendeng, Sera, Gerak Gulung, dan lain-lain.
Jadi aliran silat suatu daerah bisa terdiri dari berbagai aliran jenis silat nya.
Perguruan adalah wadah organisasi yang mengajarkan suatu jenis pencak silat dari satu atau beberapa aliran. Kita mengenal banyak perguruan silat di tanah air dari yang sangat terkenal sampai yang tidak dikenal masyarakat umum. Contoh perguruan yang cukup terkenal antara lain : PADJADJARAN NASIONAL,  KELUARGA SILAT NASIONAL PERISAI DIRI, PPS BETAKO MERPATI PUTIH, PGB BANGAU PUTIH, TAJIMALELA, KPS NUSANTARA, PERSAUDARAAN SETIA HATI, MUSTIKA KWITANG, TAPAK SUCI PUTRA MUHAMMADIYAH, DLL. Perguruan-perguruan silat tersebut telah sangat terkenal dengan manajemen organisasi yang bagus, bahkan mempunyai cabang-cabang di luar negeri, dan telah banyak mengukir prestasi melalui atlet-atlet nya.
Dengan adanya pembagian ini diharapkan tidak terjadi lagi kerancuan dan salah pengertian antara aliran silat dengan perguruan silat.
Filosofi dalam Pencak Silat
Salah satu hal yang membuat pencak silat bernilai tinggi adalah filosofi yang terkandung di dalamnya, yang membuat pencak silat tidak hanya alat untuk berkelahi dan membela diri, tetapi jauh dari itu pencak silat dapat membuat manusia menjadi insan yang berjiwa satria, berkepribadian luhur, bermartabat dan menghargai nilai-nilai kemanusian. “Silat untuk silaturahim” adalah slogan yang bernilai filsosofis. Silat menjadikan kita manusia yang dapat menjaga nilai-nila sosial, menjalin tali silaturahim, bertanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Terlalu klise dan hiperbolis kelihatannya. Tetapi apa bila kita mengahayati dan mengamalkannya, hal itu bukan lah suatu slogan kosong semata.
“Lahir silat mencari teman, batin silat mencari Tuhan”. Ini adalah petuah yang sangat terkenal di kalangan masyarakat khusus nya masyarakat pencak silat Minang.
Di kalangan masyarakat sunda, khusus nya maenpo cianjur/cikalong sangat terkenal petuah dari maestro maenpo cikalong yaitu Gan Obing Ibrahim bahwa “seseorang belum dapat dikatakan mahir maenpo apa bila masih mengalahkan lawannya dengan menyakiti”.
Seorang pesilat yang sudah ahli tentu akan menghayati nilai-nilai tersebut. Tidak semena-mena, tidak menyakiti, bahkan cenderung rendah hati dan tidak menunjukkan keahliannya di depan umum secara arogan. Seorang pendekar yang mumpuni akan mempertanggungjawabkan setiap tindakan nya dan mengamalkan ilmu nya di jalan kebenaran. Saya pribadi berpendapat berdasarkan pengalaman, hal-hal tersebut di atas bukanlah omong kosong belaka.
Kaedah dalam pencak silat
Kaedah adalah aturan, pedoman, tata nilai dan tuntunan yang terdapat dalam setiap gerakan pencak silat. Tanpa kaedah, maka jurus-jurus dan aplikasi yang dilakukan tidak akan bermakna dan hanya berupa gerakan kosong belaka. Dalam pertarungan sesungguh nya, seorang pesilat yang memahami kaedah dalam setiap gerakannya akan dengan mudah mengatasi lawannya yang tidak memahami kaedah.
Kaedah lah yang membuat setiap gerakan silat menjadi bermakna. Jadi intisari dalam silat adalah pemahaman akan akan setiap kaedah dalam gerak nya.
Kaedah terdapat dalam setiap gerak maupun posisi/sikap.
  1. Sikap berdiri : Posisi/sikap berdiri tegak lurus mempunyai kaedah yang berbeda dengan sikap yang agak membungkuk. Dengan demikian seorang pesilat yang memahami kaedah akan dengan mudah menentukan apakah dia harus berdiri tegak atau kah sedikit membungkuk atau membungkuk penuh dalam menghadapi lawan nya.
  2. Posisi kaki : ada berbagai macam posisi kaki dalam bersiap/sikap pasang, ada yang sejajar, kaki kanan di depan, kaki kiri di depan, tegak, setengah tegak atau pun berdiri rendah. Semua sikap itu adalah baik dan benar sepanjang kita mengetahui makna nya, kaedah nya, tujuannya. Dalam terminology silat sunda/maenpo posisi ini di sebut tangtungan kembar, jurus (kaki kanan di depan), dan suliwa (kaki kiri di depan). Bagaimana penerapannya tergantung dari situasi dan kondisi serta pemahaman akan kaedah nya. Secara umum, posisi kaki sejajar dimaksud kan supaya lebih fleksibel dalam bergerak, di mana kita akan bebas untuk bergerak maju atau mundur tanpa lawan mengetahui nya. Posisi kaki kanan di depan adalah sikap jurus yang umum nya digunakan untuk melakukan serangan, sedangkan posisi suliwa atau kaki kiri di depan digunakan untuk menyerang atau menghindar. Posisi tubuh sehubungan dengan kaki ini adalah tegak lurus, setengah tegak, dan berdiri rendah. Masing-masing mempunyai kegunanaan, kelebihan dan kekurangan tergantung sejauh mana kita menguasai teknik nya, kaedah nya dan fungsi nya.
  3. Sikap tangan : Sama hal nya dengan kaki, posisi tangan pun mempunyai variasi bermacam-macam, ada yang tergantung lurus ke bawah, sejajar di depan dada, merapat di ketiak, satu tangan di depan, terbuka lebar seperti tampak mempersilakan lawan untuk masuk menyerang, dan sebagai nya. Kombinasi dari posisi kaki dan sikap tangan akan melahirkan berbagai variasi bentuk sikap pasang dan kuda-kuda. Setiap aliran silat mempunyai kaedah sendiri tentang hal ini. Ada pula kaedah sikap tangan dengan jari terkepal, terbuka, setengah terkepal, sebagian jari terbuka lurus dan sebagian tertekuk. Masing-masing mempunyai kaedah dan tujuan yang berbeda.
  4. Pola langkah : ada langkah lurus ke depan, menyamping, mundur lurus dan mundur menyamping. Ada langkah dengan melangkah biasa, ada yang setengah melompat, dan ada langkah seser (kaki tidak diangkat), ada pola langkah kombinasi.
  5. Menyerang, menghindar, dan menangkis. Penguasaan kaedah yang matang akan menghasilkan penyerangan yang tepat sasaran, hindaran yang menyelamatkan dan tangkisan yang tepat. Contoh nya, apabila posisi lawan sejajar tegak lurus dengan kuda-kuda “jurus”, maka serangan lurus dengan jurus tidak akan menghasilkan serangan yang berhasil, kecuali si lawan terlena dengan ketampanan/kecantikan kita.
  6. Masih banyak kaedah yang terdapat dalam pencak silat. Uraian satu per satu dan detil mungkin membutuhkan pembahasan dalam bab tersendiri.
Inti nya adalah menguasai pencak silat tidak hanya menguasai jurus dan teknik serta aplikasi nya tetapi yang lebih penting adalah menguasai dan mengerti kaedah nya, dan tentu saja filosofi nya.
Belajar Pencak Silat
Yang terutama dan sangat penting adalah niat. Niat yang ikhlas untuk belajar, bisa dan mengerti serta niat untuk menjaga dan melestarikannya. Selanjut nya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran. Apabila sekedar belajar secara instan, jangan diharapkan akan menguasai pencak silat secara utuh. Bertanggung jawab dan beretika, ini sangat penting. Pencak silat yang kita kuasai harus kita pertanggung jawabkan penggunaannya untuk kebaikan. Ber etika yang dimaksud di sini adalah belajar silat tidak sekedar untuk icip-icip, coba-coba dan sekedar petualangan (hal ini banyak terjadi berdasarkan pengalaman saya). Atau belajar suatu aliran sekedar untuk mendapat kan satu dua jurus pilihan dan mencampuradukan dengan aliran lain/aliran sendiri, kemudian mengklaim sebagai jurus ciptaan sendiri atau hasil cipta leluhur nya. Menggabungkan atau menciptakan jurus baru tentu saja tidak dilarang bahkan bagus untuk perkembangan pencak silat itu sendiri, yang tidak dibenarkan adalah menghilangkan asal-usul dari sumber jurus tersebut.
Image negative tentang pencak silat
Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini di masyarakat sudah melekat kesan negative tentang pencak silat seperti :
  1. Silat itu kampungan
  2. Silat itu penuh dengan mistik dan klenik yang tidak masuk akal
  3. Silat itu untuk kalangan preman dan tukang pukul
  4. Belajar silat hanya membuat anak-anak kita belajar kekerasan
  5. Silat tidak ampuh untuk berkelahi hanya bagus untuk ditonton tarian/ibingannya, dll.
Pendapat saya untuk hal-hal di atas adalah, bagi para pecinta dan pelestari silat, marilah kita introspeksi dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa hal itu tidak benar. Bagi kalangan yang merasa pencak silat “tidak ada bagus-bagus nya sama sekali” dan memandang nya secara negative, sadarilah kalau bukan kita yang mencintai dan melestarikannya lantas siapa lagi? Fakta bahwa orang-orang luar (orang asing) berbondong-bondong belajar silat dan membuka perguruan pencak silat di Negara nya membuktikan bahwa pencak silat adalah sebuah “barang bagus, layak jual dan layak dikoleksi”. Selanjut nya, silakan berkenalan dan bergaul dengan para sahabat silat yang tergabung dalam komunitas sahabat silat, ikutan diskusi untuk menambah wawasan dan kecintaan terhadap pencak silat. Terakhir, sering-sering lah berkunjung ke website ini FORUM SILAT agar kita lebih saling mengenal, berbagi dan bersama-sama memperkenalkan PENCAK SILAT bagi masyarakat yang belum cukup mengenalnya

Rabu, 22 Agustus 2012

TROKTOK, MAEN PUKULAN BETAWI


Troktok | salah satu | aliran pencak silat | dari | Betawi
ditulis oleh : Ndel Minerva
Keberadaan maen pukul Troktok di Ulujami bermula dari belajarnya seorang anak muda yang bernama (Haji) Dilun mempelajari ilmu maen pukul dari seorang guru yang bernama Marzuk di Rawa Kidang Tangerang. Sosok Guru Marzuk selain dikenal sebagai ahli dalam ilmu beladiri,beliau juga dikenal sebagai ahli dalam ilmu agama. Karena pada zaman itu maen pukul dan ibadah merupakan sesuatu yang tak terpisahkan keberadaannya. Jadi berangkatlah (Haji) Dilun menemui Guru Marzuk.
(Haji) Dilun adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan seorang kepala desa/lurah Ulujami pertama yang bernama (Ki)Syairan atau Siran/Biran/Diran bin Madi dengan seorang istri yang berasal dari Kreo Ciledug. Diperkirakan beliau lahir pada tahun 1843 M(saat itu Ulujami termasuk dalam wilayah administrasi kecamatan Ciledug Daswati II (kabupaten/kotapraja) Tangerang. Data ini dapat dilihat pada tahun-tahun mendatang.seperti tertera pada Surat Ketetapan Iuran Pembangunan Daerah pada tahun 1967.
Saat usianya tumbuh remaja. Atas perintah dan rekomendasi bapaknya,ia pergi berguru kepada Guru Marzuk diRawa Kidang.
Sampai beberapa lama,sampai pada saat ia dinyatakan cukup dan selesai dalam pembelajarannya,akhirnya ia pun kembali ke Ulujami untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah didapatnya.

Sementara itu,adiknya yang pertama yang bernama (Haji)Buang menjabat sebagai kepala desa/lurah Ulujami yang ke-2 menggantikan posisi bapaknya. Sedangkan adiknya yang kedua yang bernama Madi,konon beliau pergi merantau ke Bagan Siapiapi Kepulauan Riau(sempat terjadi kontak melalui surat yang menyatakan bahwa ia berada,tinggal dan menetap disana).
Waktu berlalu,masing-masing dari beliau mempunyai keluarganya sendiri. Sementara itu (Haji)Dilun dalam pernikahannya yang ke-2 dengan seorang gadis dari Kampung Sawah(Pisangan Kretek) Petukangan yang bernama (Hajjah)Rainah binti Tiran. Beliau dikarunia beberapa orang anak yang diantaranya adalah Muhammad Syukri sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara. Ia lahir pada hari Jum’at tanggal 07 Agustus 1936 M atau bertepatan dengan tanggal 19 Jumadil ‘Awwal 1355 H.
Ulujami yang dipimpin oleh (Haji)Buang,kala itu ia didampingi (Haji)Dilun dalam melaksanakan tugas-tugasnya dibidang keamanan. Banyak warga Ulujami dengan latar belakang maen pukul yang berbeda bersatu padu dalam keamanan menjaga kampung. Karena pada dasarnya seluruh warga asli Ulujami masih terkait dalam tali kekeluargaan(banyak warga asli Ulujami dengan berbagai versi mempercayai bahwa asal usul mereka berasal dari Banten atau Cirebon. Hal ini ditegaskan dengan adanya sebuah maqam tua yang dikeramatkan dan dikenal dengan nama Maqam Keramat Nyai Syeikh Kompi Syerah yang dipercaya sebagai pendiri kampung Ulujami yang berasal dari Banten atau Cirebon..Wallohu a’lam).
Saat anak-anak dari (Haji)Dilun beranjak dewasa,mereka diwajibkan untuk belajar maen pukul dengan kebebasan untuk memilih jenis dan aliran maen pukul yang disukai untuk dipelajari. Karena (Haji)Dilun beranggapan semua jenis dan aliran maen pukul baik dan bagus semua,tinggal bagaimana yang mempelajari mengamalkannya.
Kebetulan dari beberapa anak-anaknya hanya M.Syukri yang menguasai dan meneruskan keberadaan maen pukul Troktok di Ulujami. M.Syukri selain belajar kepada bapaknya,ia juga belajar langsung kepada Guru Marzuk di Rawa Kidang. Pada masa-masa beliaulah maen pukul Troktok berkembang. Saat itu banyak para orang tua menitipkan anak-anaknya untuk belajar maen pukul ini. Maen pukul yang orang kebanyakan menyebutnya dengan sebutan “Jurus Angin”, lantaran untuk ngejalaninnya tidak dituntut untuk mengeluarkan banyak tenaga. Ada juga yang menyebut dengan “Tepok Nyamuk”,karena kedengaran seperti orang lagi nepokin nyamuk. Ada juga yang menyebut dengan “Langkah” dan “Ronce”,khusus penyebutan Ronce,biasanya untuk penyebutan didalam sambut dimaenan ini,yang berarti nyambung terus menerus tiada putus layaknya anyaman rantai.
Pada hari ahad tanggal 22 September 1963 M atau bertepatan pada tanggal 3 Jumadil ‘Awwal 1383 H, Haji Dilun meninggal dunia disebabkan sakit. Dengan usia kurang lebih 120 tahun. Jenazah beliau dimakamkan dikomplek pemakaman keluarga dibelakang gedung SMP/SMK PERWIRA Ulujami Pesanggrahan.
Sepeninggal bapaknya,M.Syukri meneruskan maen pukul Troktok dengan mengajar anak-anaknya dan anak muda seputaran Ulujami. Mereka datang dengan rombongan.tiap-tiap rombongan sekitar 10-20 orang. Waktu saya masih kecil,kira-kira umur 4 atau 5 tahun. Hampir tiap malam rumah selalu ramai dengan datangnya rombongan anak muda yang ingin belajar.tidak saja dari wilayah Ulujami,tapi juga dari wilayah lainnya.
Pada hari selasa dinihari tanggal 10 Juli 2001 M atau yang bertepatan dengan tanggal 18 Rabiul Tsani 1422 H. Haji Muhammad Syukri meninggal dunia karena sakit. Jenazah beliau dimakamkan diPemakaman Wakaf belakang kelurahan Ulujami.
(Robbighfirlana waliwaalidina warhamhuma kamaa robbayana shighoro..).
Dalam maen pukul ini terdapat beberapa jurus dan langkah,diantaranya:
A.J U R U S
1. Pukul/jurus angin
2. Deprok
3. Kepang/seliwa
4. Kancut(tendangan dengkul)
B. L A N G K A H (dalam maenan ini, dimulai dengan langkah 2.sedangkan langkah 1 dijadikan sebagai penutup.
1. Langkah 2 kurung
2. Langkah 3 kurung
3. Langkah 4 colong
4. Langkah 5
-sangkol
-tetes
5. Langkah 1
-silo macan
-ngayak
C. S A M B U T

Beberapa bentuk dan jenis pukulan di maenan Betawi


Kali ini saya akan berbagi mengenai beberapa istilah pukulan dan bentuk serta sasarannya dalam istilah Betawi-sepanjang yang saya ketahui
  1. Pukul : adalah bentuk pukulan yang umum, alat yang digunakan adalah kepalan tangan dengan sasaran bebas seluruh anggota badan. Pukul, pukulan, bisa juga berarti “hantaman” dalam pengertian bebas. Dapat juga dikatakan bahwa “pukul” adalah menyerang dengan menggunakan tangan;
  2. Sontok, nyontok : adalah pukulan dengan menggunakan jari yang dilipat, alat hantaman adalah ujung lipatan jari. Sasarannya adalah jidat/kening, batang hidung, pelipis, tulang rahang, dagu atas di bawah bibir
  3. Colok : adalah pukulan menggunakan jari tangan/ujung jari, dengan sasaran mata
  4. Tabok : adalah pukulan dengan menggunakan telapak tangan, dengan sasaran sisi samping kepala, punggung, ujung atas leher/bawah kepala belakang
  5. Tablak : sama dengan tabok tetapi dengan sasaran punggung
  6. Gampar : adalah pukulan dengan menggunakan telapak tangan dengan sasaran samping kepala
  7. Tampar : sama dengan gampar, tetapi sasaran khusus pipi dan tekanan ada pada jari2 yang melecut
  8. Kepret (dibaca seperti pada pengucapan “celeng”) : hampir sama dengan tampar, tetapi menggunakan punggung tangan dengan penekanan pada jari2 yang melecut. Sasarannya adalah pipi, muka;
  9. Tebang : adalah pukulan yang menggunakan sisi tangan bagian bawah dengan jari2 yang dirapatkan. Sasaran : leher
  10. Sangkol/bandut/bandul : adalah pukulan yang mirip dengan upper cut pada tinju dengan sasaran : kemaluan, perut, ulu hati, dagu
  11. Bacok : sama dengan tebang
  12. Singkur : adalah jenis pukulan yang sama dengan tebang dan bacok tetapi lintasannya zig-zag dari atas ke bawah seperti huruf “Z” terbalik (arah dari kanan atas). Sasaran : leher–>dada–>perut. Singkur juga bisa diterapakan dengan menggunakan GOLOK
  13. Sikut/gentus : adalah pukulan yang menggunakan siku tangan dilipat. Arah serangan bisa menyamping, bisa juga dari bawah ke atas. Sasaran : dagu, ulu hati, rahang, batang hidung di bawah mata, pundak bagian depan

Terima kasih Bila ada yang ingin menambahkan atau ada koreksi, silakan masukan dalam komentar
Wassalam

sumber: /http://duniasilat.wordpress.com/2012/07/22/beberapa-bentuk-dan-jenis-pukulan-di-maenan-betawi/